RSS Feed

30 July 2010

Mengatasi Pornografi dan Pornoaksi

Mengatasi Pornografi dan Pornoaksi

Oleh: Najmah Saiidah

Mencari Akar Masalah

Jika kita telusuri dengan cermat, masalah pornografi dan pornoaksi ini bukan sekadar masalah sosial, tetapi terkait dengan ideologi atau asas dari sistem kehidupan yang berlaku di negeri ini. Merajalelanya seks bebas, perkosaan atau pelecehan seksual lainnya, kekerasan dengan berbagai bentuknya, peredaran VCD porno dan bentuk pornografi atau pornoaksi lainnya, serta tindakan kriminal yang lainnya merupakan buah yang harus dipetik ketika Kapitalisme sekular menguasai dan menjadi sistem kehidupan masyarakat di Indonesia. Sistem kehidupan ini memisahkan agama dari kehidupan, sementara kebahagiaan diukur berdasarkan pada manfaat atau kenikmatan jasadi dan materi semata. Sistem ini menyandarkan diri pada nilai kemanusiaan yang semu dan menjadikan kebebasan (termasuk kebebasan berperilaku) di atas segalanya. Wajar jika pada akhirnya mengumbar aurat di tempat-tempat umum, pergaulan bebas tanpa batas yang dilakukan tanpa rasa berdosa, hamil di luar nikah, dan aborsi dianggap biasa; pelecehan seksual bahkan perkosaan (termasuk terhadap anak di bawah umur ataupun kerabat) sudah menjadi berita sehari-hari. Tampak jelas, sistem ini telah melahirkan aturan yang serba tidak jelas dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk aturan sosialnya atau pengaturan hubungan laki-laki dan perempuan. Lalu masihkah kita berharap pada sistem yang rusak ini ketika kita hendak memperbaiki kondisi umat?

Islam Solusi Satu-satunya

Berbeda halnya dengan sistem Kapitalisme-sekular, Islam yang menjadikan akidah Islam-Lâ Ilâha illâ Allâh Muhammad Rasûlullâh-sebagai asas dan syariat Islam sebagai pijakannya memiliki sistem aturan yang sangat rinci dan sempurna, mencakup seluruh aspek kehidupan. Sistem aturan ini lahir dari Zat Yang Mahakuasa dan Mahatahu atas segala sesuatu. Karena itu, seluruh persoalan yang dihadapi makhluk-Nya dalam situasi dan kondisi apapun dapat diselesaikan dengan memuaskan tanpa ada pihak manapun yang dirugikan. Aturan-aturan tersebut senantiasa sesuai dengan fitrah manusia dan memuaskan akal manusia yang pada akhirnya akan menenteramkan jiwa manusia.

Islam telah mengatur sedemikian rinci hubungan laki-laki dengan perempuan, mulai dari pertemuan di antara keduanya, hubungan yang timbul sebagai implikasi dari adanya pertemuan/interaksi tersebut, hingga segala sesuatu yang terkait dengan hubungan tersebut. Mengapa Islam mengatur sedemikian detil hubungan laki-laki dan perempuan? Karena memang interaksi antara kedua jenis manusia ini sering menimbulkan berbagai problem, sebagaimana yang terjadi dalam kehidupan manusia dewasa ini. Karena itu, diperlukan adanya aturan yang baku untuk mengaturnya agar terjadi ketenangan di antara keduanya ketika mengarungi kehidupan. Islam telah menjelaskan aturan ini secara rinci dalam An-Nizhâm al-Ijtimâ'i fî al-Islâm (Sistem Pergaulan dalam Islam). Dapat dipastikan, permasalahan pornografi dan pornoaksi yang telah sangat meresahkan masyarakat ini tidak akan membingungkan jika diserahkan kepada aturan/sistem pergaulan dalam Islam. Berikut rinciannya:

1. Batasan Aurat

Berbicara tentang pornografi dan pornoaksi berarti bebicara tentang aurat. Batasan aurat sudah sangat jelas. Aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangan, sebagaimana yang dijelaskan dalam al-Quran. Allah Swt. berfirman:

Katakanlah kepada para wanita Mukmin, "Hendaklah mereka menahan pandangannya, memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa tampak padanya." (QS an-Nur [24]: 31).

Riwayat yang sahih menyatakan bahwa Ibn Abbas, Ibn Umar, dan Aisyah, menafsirkan kalimat illâ mâ zhahara minhâ/kecuali yang biasa tampak darinya (QS an-Nur [24]: 31) dengan wajah dan kedua telapak tangan sampai pergelangan tangan.

Walhasil, berdasarkan al-Quran, batasan aurat wanita dalam Islam adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Oleh karena itu, jika seorang wanita menampakkan bagian tubuhnya selain wajah dan kedua telapak tangannya maka itu sudah termasuk perkara yang diharamkan dalam Islam.

Demikian juga dengan aurat laki-laki, dalam Islam juga sudah diberi batasan yang jelas, yaitu dari pusar sampai lutut. Oleh karena itu, jika ada seorang laki-laki yang menampakkan anggota tubuhnya dari pusar sampai lutut maka ia sudah melanggar syariat Islam. Dalam hadis disebutkan:

Sesungguhnya apa yang ada di bawah pusar sampai kedua lutut laki-laki merupakan auratnya. (HR Ahmad).

Di samping itu Islam pun telah mengatur bahwa jika seorang perempuan keluar rumah maka ia diperintahkan untuk memakai jilbab (pakaian luar yang dipakai di atas pakaian sehari-harinya/mihnah, menutupi seluruh tubuhnya hingga ujung kaki), sebagaimana firman Allah:

Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang Mukmin, "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal sehingga mereka tidak diganggu. (QS al-Ahzab [33]: 59).

2. Larangan Tabarruj.

Islam juga telah melarang kaum hawa untuk menampakkan perhiasan dan kecantikannya di hadapan laki-laki asing atau ber-tabarruj. Islam pun telah memerintahkan laki-laki maupun perempuan untuk menahan pandangan (ghadh al-bashar) (QS an-Nur [24]: 30-31). Rasulullah saw. juga pernah bersabda:

Dua golongan di antara penghuni neraka yang belum aku lihat keduanya: suatu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang mereka gunakan untuk memukul orang-orang; perempuan yang berpakaian, tetapi telanjang yang cenderung dan mencenderungkan orang lain, rambut mereka seperti punuk unta yang miring. (HR Muslim)

3. Larangan Berkhalwat.

Islam pun telah melarang laki-laki dan perempuan berdua-duaan di tempat sunyi sehingga tidak memungkinkan bagi orang lain untuk bergabung, kecuali dengan izin keduanya (khalwat). Islam juga telah melarang perempuan dan laki-laki bercampur-baur (ikhtilâth) kecuali pada tempat-tempat yang tidak memungkinkan untuk memisahkan keduanya, seperti di pasar-pasar. Rasulullah saw. bersabda:

Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah tidak ber-khalwat dengan seorang perempuan yang tidak disertai mahramnya, karena sesungguhnya yang ketiganya adalah setan. (HR Ahmad).

Pentingnya Daulah Khilafah

Demikianlah sebagian aturan Allah yang terkait dengan interaksi laki-laki dan perempuan, sebagai aturan yang lengkap dan baku, berlaku bagi seluruh manusia tanpa memihak ataupun merugikan salah satu jenis manusia. Hanya saja, tidak cukup hanya aturan yang terkait dengan pergaulan atau interaksi laki-laki dan perempuan saja yang harus diterapkan, tetapi seluruh aspek kehidupan tentu dibenahi dan ditata sesuai dengan syariat Islam. Semua ini hanya bisa diterapkan dan dilaksanakan dalam sebuah institusi negara, yaitu Daulah Khilafah Islamiyah, yang menjadikan akidah dan syariat Islam sebagai pijakannya.

Secara preventif Islam telah menyediakan berbagai aturan-yang sebagiannya telah disebutkan di atas-yang dapat mencegah permasalahan pornografi dan pornoaksi ini terjadi. Selain itu, untuk mencegah masuknya pornografi dari luar negeri, negara menerapkan syariat hubungan luar negeri yang berbasis pada dakwah dan jihad. Perdagangan luar negeri dipandang dalam kerangka yang akan menguatkan Khilafah Islam dan kaum Muslim. Segala komoditas yang berpotensi melemahkan-termasuk melemahkan akidah dan kepribadian kaum Muslim-harus dicegah. (Bulletin Al-Islam, edisi 164, 30/7/2003).

Secara kuratif, Islam telah menyediakan sanksi yang tegas bagi pelaku pornografi dan pornoaksi demi tegaknya kebenaran dan terselamatkannya umat, baik di dunia maupun di akhirat. Penerapan sanksi dalam Islam berfungsi sebagai jawâbir (penebus dosa) dan zawâjir (pencegah manusia yang lain melakukan perbuatan yang sama). Salah satu contoh sanksi dalam Islam dapat dilihat dalam Nizhâm al-Uqûbât yang ditulis oleh Abdurahman al-Maliki dalam bab tentang pelanggaran terhadap kehormatan, sub-bab perbuatan cabul, bahwa setiap orang yang melakukan tarian atau gerakan erotis (merangsang) yang dapat membangkitkan syahwat di tempat umum-seperti di jalan, warung, kafe, dan sebagainya-akan dikenai sanksi penjara sampai 6 bulan lamanya, Jika ia mengulangi lagi perbuatannya, sanksinya akan ditambah menjadi hukuman penjara selama 2 tahun dan dicambuk.

Kita bisa mengingat kembali sebuah peristiwa bagaimana terlindunginya seorang perempuan dengan aturan Islam yang diterapkan secara sempurna oleh negara. Ketika itu seorang perempuan mengalami pelecehan oleh tentara Romawi sehingga tersingkap auratnya, kemudian perempuan itu memanggil-manggil sang Khalifah, Al-Mu'tashim Billah, untuk meminta tanggung jawabnya dalam melindungi rakyatnya. Khalifah serta-merta mengerahkan pasukannya dalam jumlah sangat besar untuk membela perempuan tersebut. Subhânallâh!

Telah jelas bagi kita bahwa Islam merupakan ideologi yang telah melahirkan peradaban yang bertolak belakang dengan peradaban sekular-kapitalis. Ideologi Islam telah melahirkan peradaban yang terikat oleh wahyu Allah. Karena itu, solusi Islam dalam memberantas pornografi dan pornoaksi tidak boleh sepotong-sepotong, namun harus komprehensif. Hal ini, mau tidak mau, harus dimulai dari akarnya, yaitu dengan memberangus sistem Kapitalisme-sekular dan menggantinya dengan sistem Islam. Bukankah Allah Swt. telah berfirman:

Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki. Siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS al-Maidah [5]: 50).

Tiga Pilar Penting

Sistem Islam, termasuk aturan Islam tentang permasalahan pornografi dan pornoaksi ini, hanya akan terlaksana dan mampu menyelesaikan permasalahan jika diterapkan dengan tiga pilar, yaitu: individu yang bertakwa, kontrol masyarakat, dan institusi negara. Rinciannya adalah sebagai berikut:

1. Peran individu.

Suatu aturan Allah Swt. akan bisa diterapkan oleh setiap individu yang bertakwa yang memiliki keimanan yang kokoh kepada Sang Pembuat Hukum, yaitu Allah 'Azza wa Jalla. Ketakwaan dan keimanan yang kokoh didapat dengan cara pembinaan yang intensif dalam rangka membentuk kepribadian Islam (Syakhshiyah Islamiyyah) melalui penanaman tsaqâfah islâmiyyah (ilmu-ilmu keislaman) yang memadai, dengan menjadikan akidah dan syariat Islam sebagai pijakannya.

2. Peran masyarakat.

Para ulama, tokoh-tokoh masyarakat, dan komponen-komponen lainnya yang ada di masyarakat hendaklah bersama-sama dan bersinergi mengontrol setiap kerusakan yang terjadi di tengah-tengah umat. Saling mengingatkan merupakan senjata yang paling ampuh, temasuk mengingatkan agar para penguasa tidak lalai dalam menjalankan amanahnya. Mereka pun berkewajiban untuk mencerdaskan umatnya melalui pembinaan umat secara keseluruhan dan berlangsung terus-menerus tanpa henti agar umat juga berani mengingatkan pemimpinnya. Karenanya, Islam sangat memperhatikan 'kesehatan masyarakat'. Masyarakat yang sehat hanya akan terwujud dengan terlaksananya amar makruf nahi mungkar di tengah-tengah masyarakat oleh seluruh komponen masyarakat, baik rakyat maupun penguasa.

3. Peran negara.

Dalam pandangan Islam, negara bertanggung jawab untuk memelihara akidah Islam dan melaksanakan hukum-hukum Allah secara sempurna di tengah-tengah kehidupan. Aparat negara tidak perlu bersikap reaktif; menunggu masyarakat marah dan kemudian merusak sarana-sarana maksiat (termasuk arena pornoaksi atau tempat-tempat penjualan pornografi). Aparat negaralah yang seharusnya proaktif melakukan pencegahan sesuai dengan syariat Islam.

Negara menyelenggarakan sistem pendidikan dengan kurikulum yang islami agar umat tidak mendewakan kebebasan berekpresi dan berperilaku. Sebagai pelaksana hukum-hukum Allah dan Rasul-Nya, negara memberlakukan sanksi terhadap pelaku tindakan pornografi dan pornoaksi secara sempurna. Lebih dari itu, negara adalah pengontrol atas materi atau isi media-media yang ada, apakah tayangan televisi, materi siaran, ataupun isi dari koran-koran atau majalah-majalah, VCD, dan sebagaianya yang beredar di masyarakat.

Khatimah

Upaya Barat menancapkan hegemoninya di negeri-negeri Islam sudah saatnya dihentikan. Persoalan pornografi dan pornoaksi merupakan salah satu cara yang digunakan Barat untuk menguasai negeri-negeri Islam melalui ideologi Kapitalisme-sekularnya. Harus dibangun kesadaran politik yang mantap pada seluruh komponen yang ada di masyarakat, termasuk para pengemban dakwah, agar dapat memahami berbagai strategi dan rencana busuk dari musuh-musuh Allah Swt. dan kaum Muslim.

Keberadaan sebuah institusi negara, yaitu Daulah Khilafah Islamiyah, adalah satu hal yang mendesak bagi seluruh kaum Muslim. Dengan institusi inilah semua aturan Islam dapat ditegakkan. Allah Swt. berfirman:

Hendaklah kamu menghukumi mereka berdasarkan apa saja yang telah Allah turunkan kepadamu. (QS al-Maidah [5]: 49).


2 comments:

insidewinme said...

Hari ini kaum Muslimin berada dalam situasi di mana aturan-aturan kafir sedang diterapkan. Maka realitas tanah-tanah Muslim saat ini adalah sebagaimana Rasulullah Saw. di Makkah sebelum Negara Islam didirikan di Madinah. Oleh karena itu, dalam rangka bekerja untuk pendirian Negara Islam, kelompok ini perlu mengikuti contoh yang terbangun di dalam Sirah. Dalam memeriksa periode Mekkah, hingga pendirian Negara Islam di Madinah, kita melihat bahwa RasulAllah Saw. melalui beberapa tahap spesifik dan jelas dan mengerjakan beberapa aksi spesifik dalam tahap-tahap itu

Mas Dhar said...

Terima kasih atas kunjungannya. Memang benar, kita terkadang sebagai orang awam tidak tahu bahwa sebenarnya kita hanya mengikuti segala aturan yang dimiliki kaum nasrani, tanpa sadar hampir seluruh aspek kenegaraan, sosial, lebih banyak memungut aturan dari kaum yang sebenarnya musuh kita. Padahal peran sebuah aturan Islam yang kaffah sangat penting. Semoga masyarakat muslim Indonesia lebih peka dan sadar terhadap realita yang menimpa mereka.